Dikuasakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
ipoh, perak
X KAGAT....?.

SMS ampang ipoh 24 /6/ 11

gif webcam

DI SMA Chemor 13/5/12

pictures to gif

Di SMA Chemor

animated gif maker

Guru Pendidikan Islam Ulu Kinta Jun 13

http://picasion.com/i/1VkmT/

26 Apr 2012

segeralah bertaubat

Jika taubat adalah wajib bagi seluruh kaum mu'minin, maka melaksananya secepatnya adalah kewajiban yang lain. Sehingga tidak boleh ditunda pelaksanaannya. Karena itu akan berbahaya bagi hati orang yang beragama. Dan jika tidak secepatnya membersihkan dirinya dari dosa, ditakutkan pengaruh dosa itu akan bertumpuk dalam hatinya, satu persatu, hingga hati itu menghitam atau membusuk. Seperti disebutkan halam hadits yang diriwayaktan oleh Abu Hurairah r.a. dari Nabi Saw:
"Sesungguhnya seorang manusia, jika ia melakukan dosa maka dihatinya akan tercoreng warna hitam, dan jika ia meninggalkan perbuatan dosa itu serta bertaubat darinya, maka hatinya kembali bersih. Dan jika ia kembali melakukan dosanya itu, maka hitamnya itu akan ditambah hingga menutupi seluruh hatinya, itulah tutupan yang disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya: "Sama sekali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi (3331) dan ia berkata: Hasan Sahih. Demikian juga An Nasai, Ibnu Majah (4244), Ibnu Hibban dalam sahihnya seperti terdapat dalam Al Mawarid (2448) dan Al Hakim serta ia mensahihkannya atas syarat Muslim dan Adz Dzahabi menyetujuinya (2/517). Dan ayat itu adalah dari QS. Al Muthaffifiin: 14)
Ibnu Qayyim berkata: segera bertaubat dari dosa adalah kewajiban yang harus dilakukan segera, dan tidak boleh ditunda. Ketika ia menundanya maka ia bertambah dosa dengan penundaannya itu. Dan jika ia telah bertaubat dari dosa, maka masih ada dosa yang harus ia pintakan ampunannya, yaitu dosa menunda bertaubat! Tentang ini sedikit sekali dipikirkan oleh orang yang telah bertaubat. Malah ia menyangka jika ia telah bertaubat dari dosanya maka ia tidak memiliki dosa lagi selain itu, padahal ia tetap memiliki dosa, yaitu menunda taubatnya itu.

Yang paling berbahaya bagi orang yang melakukan maksiat adalah jika ia terus menunda-nunda taubat. Artinya, ia selalu berkata: nanti aku akan kembali menjadi orang yang benar, aku akan taubat, aku akan berhenti dari melakukan perbuatan ini dan itu. Oleh karena itu dikatakan: ungkapan "saufa --nanti aku akan" adalah salah satu tentara Iblis! Dikatakan pula: mayoritas penghuni neraka adalah orang -orang yang selalu berkata: nanti akan taubat, nanti aku akan ... dst. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi dan belanjakanlah sebagian dari apa yang kamu berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: Ya Tuhanku, mengapa engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (al Munafiqun: 9-11)
Di antara keutamaan mensegerakan taubat adalah: ia akan membantu orang yang berdosa itu untuk mencabut akar dosa sebelum itu menjadi kronis dan tertanam kuat dalam hatinya, kemudian tersebar dalam seluruh perbuatannya, dan setiap hari keburukan itu terus berkembang dari sumbernya itu, hingga mencakup seluruh perbuatannya.

Orang yuang selalu menunda-nunda itu adalah seperti orang yang ingin mencabut sebuah pohon, dan ia melihat pohon itu kuat, sehingga jika ia mau mencabutnya akan menggunakan tenaga yang kuat. Kemudian ia berkata dalam dirinya: "aku tunggu hingga satu tahun, baru aku datang kembali untuk mencabutnya". Ini adalah logika orang bodoh dan tolol. Karena ia tahu, pohon dari hari kehari akan makin kokoh dan besar, sementara dirinya semakin tua akan semakin lemah! Tidak ada kebodohan yang lebih besar dari kebodohannya ini. Karena jika ia tidak mampu --meskipun ia kuat -- untuk melawan sesuatu yang lemah, maka mengapa ia menunda untuk mengalahkannya, hingga dirinya kemudian melemah, sementara musuhnya itu makin kuat?!

Sering sekali orang menunda-nunda taubat itu, hingga datang waktu tidak diterimanya taubat, dan Allah SWT sudah tidak menerimanya. iaitu ketika manusia telah kehilangan kesempatan untuk memilih, dan saat itu taubatnya adalah taubat orang yang terpaksa. Seperti taubat Fir'aun ketika ia sudah hampir tenggelam. Ia berkata:

 "aku beriman, bahwa tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang diamini oleh Bani Israil dan aku adalah bagian dari kaum muslimin". Maka jawaban Allah adalah: "Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (Yunus:91.).

Ketika seorang mukallaf telah menghadapi kematiannya, saat itu taubatnya tidak diterima lagi. Seperti firman Allah SWT:
"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantara kejahilan yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: sesungguhnya saya bertaubat sekarang dan tidak (pula) diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah kami sediakan siksa yang pedih." (an-Nisa: 17-18)
YUSOF AL-QARDHAWI

24 Apr 2012

Apa yang menyebabkan Islam seseorang menjadi batal?

Setiap  manusia,  apabila  telah  mengucapkan  dua   kalimat Syahadat,  maka  dia  menjadi orang Islam. Baginya wajib dan berlaku hukum-hukum Islam, yaitu beriman akan  keadilan  dan kesucian Islam. Wajib baginya menyerah dan mengamalkan hukum Islam  yang  jelas,  yang  ditetapkan  oleh  Al-Qur'an   dan As-Sunnah.

Tidak   ada   pilihan  baginya  menerima  atau  meninggalkan sebagian.  Dia  harus  menyerah  pada   semua   hukum   yang dihalalkan  dan  yang  diharamkan, sebagaimana arti (maksud) dari ayat di bawah ini:

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki  yang  Mukmin  dan  tidak (pula)  bagi wanita yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan,  akan  ada  bagi  mereka pilihan   (yang  lain)  tentang  urusan  mereka  ..."  ( Al-Ahzab: 36) .

Perlu diketahui bahwa ada diantara  hukum-hukum  Islam  yang sudah  jelas  menjadi  kewajiban-kewajiban,  atau yang sudah jelas diharamkan  (dilarang),  dan  hal  itu  sudah  menjadi ketetapan  yang  tidak  diragukan lagi, yang telah diketahui oleh ummat Islam pada umumnya. Yang demikian  itu  dinamakan oleh para ulama:

"Hukum-hukum agama yang sudah jelas diketahui."

Misalnya,  kewajiban salat, puasa, zakat dan sebagainya. Hal itu  termasuk  rukun-rukun  Islam.  Ada   yang   diharamkan, misalnya,  membunuh,  zina, melakukan riba, minum khamar dan sebagainya.

Hal itu termasuk dalam dosa besar. Begitu  juga  hukum-hukum pernikahan,  talak,  waris  dan  qishash, semua itu termasuk perkara yang tidak diragukan lagi hukumnya.

Barangsiapa  yang  mengingkari  sesuatu   dari   hukum-hukum tersebut,  menganggap  ringan  atau  mengolok-olok, maka dia menjadi kafir dan murtad. Sebab, hukum-hukum tersebut  telah diterangkan dengan jelas oleh Al-Qur'an dan dikuatkan dengan hadis-hadis  Nabi  saw.  yang  shahih  atau  mutawatir,  dan menjadi  ijma'  oleh  ummat  Muhammad  saw. dari generasi ke generasi.  Maka,  barangsiapa  yang  mendustakan  hal   ini, berarti mendustakan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Mendustakan  (mengingkari)  hal-hal tersebut dianggap kufur, kecuali bagi orang-orang yang baru masuk Islam (muallaf) dan jauh  dari  sumber informasi. Misalnya berdiam di hutan atau jauh dari kota dan masyarakat kaum Muslimin.

Setelah mengetahui ajaran agama Islam,  maka  berlaku  hukum baginya.


Fatwa Al-QardhawiPermasalahan, Pemecahan dan HikmahDr. Yusuf Al-Qardhawi

18 Apr 2012

Petua-petua untuk suami

A. Petua menjaga hati isteri:

1. Tunjukkan rasa sayang terhadap isteri sama ada melalui kata-kata mahu pun perbuatan seperti pelukan.
2. Jauhilah daripada ucapan yang menyinggung perasaan isteri sekali pun dalam keadaan marah.
3. Apabila dalam keadaan marah yang amat sangat, berusahalah mengawal diri. Beristigfar dan berselawat serta berwuduk. Ingatlah semula segala kenangan manis dan memahami bahawa isteri memerlukan bimbingan suami dan memahami bahawa tiada orang yang tidak melakukan kesilapan.
4. Apabila timbul rasa bosan ataupun jemu terhadap isteri, cubalah ulangi kembali masamasa manis ketika dulu atau ajaklah isteri keluar makan di tempat yang agak istimewa, ataupun melancong ke tempat-tempat yang indah.
5. Janganlah merendah-rendahkan isteri di depan orang lain.
6. Janganlah memuji wanita lain di depan maupun belakang isteri.
7. Hargailah dan berilah pujian kepada pengorbanan isteri.
8. Bantulah isteri dalam kerja-kerja seperti memasak, mengemas dan sebagainya.
9. Cubalah fahami keadaan dan masalah isteri dengan mengambil berat perasaan dan kesihatan isteri terutamanya ketika haid dan mengandung.
10. Berilah bimbingan kepada isteri dalam melakukan sesuatu agar ia bertambah semangat dan bermotivasi.
11. Bantulah isteri dalam melakukan kebaikan dan ibadah.
12. Berdoalah agar hati dan perasaannya sentiasa patuh kepada Allah SWT dan hormat pada suaminya.

B. Petua mencurahkan jalinan kasih:

1. Bisikkan kasih sayang dari masa ke semasa. Pengesahan dari mulut suami ada kesan mendalam terhadap keyakinan isteri
2. Buktikan kasih sayang daripada suami:
• Hadiah dan penghargaan
• Senyuman
• Perbualan mesra
• Gurauan
• Khidmat dan bantuan dalam mengendalikan kerja-kerja rumah
• Kerjasama mendidikan anak, menyelesaikan masalah dan hal-hal lain

3. Sentuhan sayang:
• Peluklah isteri sekurang-kurangnya 7 kali sehari dan bukan tujuh hari sekali.
• Dalam diri wanita 99 kawasan yang dapat memberi kepuasan kepada isteri
apabila dirangsang suami.

4. Isteri mengharapkan pimpinan agar selamat di dunia dan akhirat:
• Suami sebagai contoh bagi isteri
• Suami memiliki ciri-ciri boleh dibanggakan isteri
• Suami sebagai tempat bergantung
• Sumber semangat dan kekuatan
• Isteri mengharapkan kemaafan dari suami setiap masa

5. Isteri mengharapkan doa yang berterusan daripada suami.

C. Petua mengetahui cinta pasangan hidup.

Jika isteri ataupun pasangan menunjukkan sikap-sikap seperti di bawah ini, itu membuktikan bahawa cintanya terhadap kita sungguh mendalam:
1. Isteri mencintai kita dengan sesungguhnya biasanya perasaannya tetap dan stabil terhadap suaminya. Suami tidak akan menemui sikap isteri pada minggu ini atau bulan ini sangat menyintai sedangkan pada masa yang lain, ia berubah. Ia tidak menuntut sesuatu kepada suami baik tentang gaya dan sebagainya.
2. Pasangan yang bercinta iaitu suami dan isteri saling memberi perhatian khusus antara sesamanya. Selalu berbincang, humor serta selalu membuat sikap-sikap yang lucu. Suami isteri selalu saling mendorong untuk menjaga badan dan kesihatan.
3. Suami isteri yang betul-betul saling mencintai akan menunjukkan cintanya dengan tingkah laku yang lemah lembut setiap hari. Membantu menyiapkan pekerjaan peribadi dan rumahtangga secara bersama.
4. Pasangan suami isteri yang sedang mencurahkan cinta dan kasih sayang, mereka selalu mengucapkan sesuatu tentang cinta, seperti sayang atau I love you ataupun memanggil sesamanya nama kesayangan.
5. Jika seseorang isteri betul-betul cinta terhadap suaminya, ia tidak akan melukai atau menyakiti hati suaminya. Ia juga tidak mengungkapkan kata-kata yang menyinggung perasaan suaminya seperti "Kamu tidak pandai mengurus badan," Atau "Kamu terlalu gemuk atau kurus," serta ungkapan-ungkapan lain.
6. Pasangan yang saling mencintai, apakah isteri sangat menyintai suami atau sebaliknya,akan selalu memberikan pujian yang sesuai baik dalam bentuk kata-kata mahu pun perbuatan.
7. Suami isteri akan berhubungan dan berbicara secara baik, dengan wajah yang berseri-seri dan sikap yang menyenangkan. Misalnya suami memeluk isteri sambil berjalan kaki ketika bersiar-siar kemudian pelukan itu disambut baik oleh isteri.
8. Setiap keberhasilan dan kejayaan selalunya mereka rasakan dan nikmati bersama. Misalnya diungkapkan dengan menepuk bahu isteri sambil memeluk dan menciumnya sebagai hadiah kejayaan.
9. Seorang pencinta biasanya seorang pendengar yang baik. Dia tidak akan berbicara sebelum pasangannya habis berbicara. Dia tidak akan memotong setiap perbicaraan suaminya. Ia baru akan berbicara bila diminta untuk memberi cadangan.
10. Suami isteri sanggup menerima kekurangan-kekurangan di antara mereka. Isteri yang sangat menyintai suaminya sanggup menerima hakikat keperibadiannya serta cara percakapan suaminya. Ia tidak sekadar menyintai suaminya lantaran suami pandai mencari harta dan wang.
11. Orang yang saling menyintai tidak akan berahsia antara sesama mereka. Tetapi selalu membahagikan rasa suka dan duka untuk diselesaikan bersama.
12. Pasangan yang bercinta sedar perkara-perkara yang dapat merunsingkan perasaan pasangannya. Mereka mengerti perasaan masing-masing. Misalnya isteri sedar jika menyampaikan masalah rumahtangga ketika suami sedang letih akan menimbulkan kemarahan suami.
 
D. Petua menjadi lelaki pilihan

Ciri-ciri lelaki pilihan:
1. Taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya
2. Mempunyai ilmu pengetahuan agama
3. Bekerja menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran
4. Mempunyai sifat berjuang mencapai kecemerlangan dalam hidup
5. Sentiasa membersihkan dirinya daripada sebarang kemungkaran
6. Selalu bertaubat dan memperbanyakan amalan-amalan sunat
7. Tidak mengharapkan balasan atau pujian apabila melakukan sesuatu
8. Tidak takut kepada cercaan orang yang suka mencela
9. Mengetahui dan faham serta mengamalkan segala kewajipannya dengan baik
10. Bersifat lapang dada, penyantun dan pemaaf
11. Berhemah tinggi dan cermat
12. Sentiasa tenang dan waspada
13. Jika ia berkahwin, dia dapat melayan isteri dengan baik kerana sebaik-baik suami adalah suami yang paling baik terhadap isteri Lelaki pilihan wanita:
1. Bersifat pelindung dan bertanggungjawab
2. Bersifat tegas tetapi lemah lembut dan penyayang
3. Berpendirian teguh
4. Bersikap terbuka dan matang
5. Bertimbang rasa dan memahami jiwa wanita
6. Mempunyai sifat kepemimpinan.
7. Boleh berbincang dan berterus terang
8. Penyabar
9. Mempunyai perancangan dan matlamat hidup yang baik dan jelas
10. Cerdik dan bijaksana
11. Peramah dan mesra
12. Kerjaya yang terjamin
13. Berwawasan untuk kesejahteraan dunia dan akhirat.

E. Petua menghadapi pertengkaran
Tiada orang yang tak pernah bertengkar seumur hidup. Jarang kita temui sesebuah rumahtangga yang tak pernah bertengkar sama sekali semenjak hidup bersama kerana hidup yang tiada pertengkaran adalah hidup yang sendirian.

Hakikat pertengkaran:
1. Hampir seluruh perkahwinan mengalami pertengkaran, meskipun ramai orang malu mengakuinya. Sebenarnya jika sebuah perkahwinan tanpa pertengkaran sama sekali membuktikan matinya emosi. Bukanlah bererti pertengkaran itu baik namun pertengkaran juga mendatangkan kebaikan dan keburukan.
2. Jika terjadi pertengkaran kerana sesuatu yang tidak diingini berlaku dalam diri pasangan hidup. Tujuannya adalah agar sesuatu yang tidak baik itu hilang dari pasangannya, baik dalam bentuk peribadi maupun pekerjaannya.
3. Sebenarnya pertengkaran itu sebagai petanda awal dari sebuah Perkahwinan. Di mana suami isteri mulai cuba untuk menyatukan selera, tujuan dan keperluan hidup mereka. Jika mereka takut berbincang kerana kuatir akan berlaku pertengkaran, akhirnya ia akan menimbulkan masalah yang lebih besar pada masa akan datang.
4. Jika suami isteri bertengkar secara kecil-kecil tidak membawa kepada pergaduhan,akhirnya mereka akan dapat mengatasi perselisihan dan kemudiannya mereka akan merasa lebih akrab.
5. Jika seorang suami merasa marah terhadap seseorang di tempat kerjanya, setelah pulang ke rumah, mungkin ia akan meluahkan rasa marahnya itu pada isterinya. Jika anda berpendapat suatu kemarahan harus diluahkan, maka anda akan meluahkan pada isteri anda. Pada hal dalam Islam, kita disuruh bersabar.
6. Jika pertengkaran tidak dapat dielakkan lagi kerana mungkin salah menyampaikan sesuatu ataupun pasangan kita tidak mahu menerima hakikat diri kita, maka usahakanlah agar pertengkaran itu tidak membawa bencana. Perhatikan keadaan persekitaran agar tiada pihak lain ikut sama atau menjadi tekanan perasaan.

Petua-petua menghadapi pertengkaran:
1. Jika terjadi pertengkaran, maka janganlah mencari kelemahan pasangan kita. Dan tidak wajar pertengkaran tersebut hanya ingin mencari kemenangan. Tetapi usahakanlah untuk menyelesaikan masalah secara bersama.
2. Jika pertengkaran itu menyangkut tentang satu topik, janganlah masalah-masalah lain dimasukkan sama lerana ia akan menjadikan suatu pertengkaran yang besar yang boleh membawa bencana.
3. Batasi kekasaran jika berlaku pertengkaran. Jangan bertindak menggunakan fizikal seperti memukul, melemparkan barang dan sebagainya. Cara ini tidak akan menyelesaikan masalah malah akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
4. Di dalam pertengkaran, gunakan bahasa yang sesuai agar pasangan tidak tertekan. Katakata yang menyakitkan hatinya seperti: "Ini semua salah kamu...!", "Engkau bodoh...!", "Engkau selalu melakukan kesalahan...!" dan sebagainya. Sebaliknya gunakanlah perkataan yang lembut seperti, "Hati saya luka kerana perbuatan itu...", "Kamu tak sedar, betapa hancurnya hati saya..." dan lain-lain.
5. Setelah bertengkar, jangan biasakan diri suka menyendiri, kemudian menjauhkan diri dari pasangan hidup. Jangan memisahkan diri kerana ia tiada nilainya sama sekali dalam perkahwinan. Bahkan ia merugikan hubungan suami isteri.

6. Jangan cuba menggunakan seks atau wang untuk membalas pertengkaran kerana cara ini akan menyebabkan terjadinya pertengkaran yang lebih hebat.
7. Jangan membiarkan pihak ketiga ikut serta dalam pertengkaran keluarga. Kehadiran pihak ketiga misalnya mertua, ipar, adik-beradik hanya akan menambahkan kecurigaan dan mungkin menambah menyala api pertengkaran. selesaikan secara baik antara suami isteri.
8. Jangan bertengkar di depan anak-anak kerana ia akan menjadikan anak-anak bingung dan tertekan perasaan. Jika ini berlaku, akan wujud banyak lagi masalah lain.
F. Petua memilih wanita idaman atau perempuan
Tidak semua orang dapat memilih pasangan hidupnya sesuai dengan keinginannya. Tetapi ramai juga yang pandai menyesuaikan diri dengan pasangannya walaupun tidak menepati ciri-ciri
wanita idamannya. Calon-calon isteri pilihan:
1. Wanita yang solehah
2. Wanita yang boleh melahirkan anak
3. Wanita yang bukan keluarga terdekat
4. Wanita yang berakal.

VI. PETUA-PETUA UNTUK SUAMI

A. Petua menjaga hati isteri:
1. Tunjukkan rasa sayang terhadap isteri sama ada melalui kata-kata mahu pun perbuatan seperti pelukan.
2. Jauhilah daripada ucapan yang menyinggung perasaan isteri sekali pun dalam keadaan marah.
3. Apabila dalam keadaan marah yang amat sangat, berusahalah mengawal diri. Beristigfar dan berselawat serta berwuduk. Ingatlah semula segala kenangan manis dan memahami bahawa isteri memerlukan bimbingan suami dan memahami bahawa tiada orang yang tidak melakukan kesilapan.
4. Apabila timbul rasa bosan ataupun jemu terhadap isteri, cubalah ulangi kembali masamasa manis ketika dulu atau ajaklah isteri keluar makan di tempat yang agak istimewa, ataupun melancong ke tempat-tempat yang indah.
5. Janganlah merendah-rendahkan isteri di depan orang lain.
6. Janganlah memuji wanita lain di depan maupun belakang isteri.
7. Hargailah dan berilah pujian kepada pengorbanan isteri.
8. Bantulah isteri dalam kerja-kerja seperti memasak, mengemas dan sebagainya.
9. Cubalah fahami keadaan dan masalah isteri dengan mengambil berat perasaan dan kesihatan isteri terutamanya ketika haid dan mengandung.
10. Berilah bimbingan kepada isteri dalam melakukan sesuatu agar ia bertambah semangat dan bermotivasi.
11. Bantulah isteri dalam melakukan kebaikan dan ibadah.
12. Berdoalah agar hati dan perasaannya sentiasa patuh kepada Allah SWT dan hormat pada suaminya.
B. Petua mencurahkan jalinan kasih:
1. Bisikkan kasih sayang dari masa ke semasa. Pengesahan dari mulut suami ada kesan mendalam terhadap keyakinan isteri
2. Buktikan kasih sayang daripada suami:
• Hadiah dan penghargaan
• Senyuman
• Perbualan mesra
• Gurauan
• Khidmat dan bantuan dalam mengendalikan kerja-kerja rumah
• Kerjasama mendidikan anak, menyelesaikan masalah dan hal-hal lain

3. Sentuhan sayang:
• Peluklah isteri sekurang-kurangnya 7 kali sehari dan bukan tujuh hari sekali.
• Dalam diri wanita 99 kawasan yang dapat memberi kepuasan kepada isteri
apabila dirangsang suami.
4. Isteri mengharapkan pimpinan agar selamat di dunia dan akhirat:
• Suami sebagai contoh bagi isteri
• Suami memiliki ciri-ciri boleh dibanggakan isteri
• Suami sebagai tempat bergantung
• Sumber semangat dan kekuatan
• Isteri mengharapkan kemaafan dari suami setiap masa
5. Isteri mengharapkan doa yang berterusan daripada suami.
C. Petua mengetahui cinta pasangan hidup
Jika isteri ataupun pasangan menunjukkan sikap-sikap seperti di bawah ini, itu membuktikan bahawa cintanya terhadap kita sungguh mendalam:
1. Isteri mencintai kita dengan sesungguhnya biasanya perasaannya tetap dan stabil terhadap suaminya. Suami tidak akan menemui sikap isteri pada minggu ini atau bulan ini sangat menyintai sedangkan pada masa yang lain, ia berubah. Ia tidak menuntut sesuatu kepada suami baik tentang gaya dan sebagainya.
2. Pasangan yang bercinta iaitu suami dan isteri saling memberi perhatian khusus antara sesamanya. Selalu berbincang, humor serta selalu membuat sikap-sikap yang lucu. Suami isteri selalu saling mendorong untuk menjaga badan dan kesihatan.
3. Suami isteri yang betul-betul saling mencintai akan menunjukkan cintanya dengan tingkah laku yang lemah lembut setiap hari. Membantu menyiapkan pekerjaan peribadi dan rumahtangga secara bersama.
4. Pasangan suami isteri yang sedang mencurahkan cinta dan kasih sayang, mereka selalu mengucapkan sesuatu tentang cinta, seperti sayang atau I love you ataupun memanggil sesamanya nama kesayangan.
5. Jika seseorang isteri betul-betul cinta terhadap suaminya, ia tidak akan melukai atau menyakiti hati suaminya. Ia juga tidak mengungkapkan kata-kata yang menyinggung perasaan suaminya seperti "Kamu tidak pandai mengurus badan," Atau "Kamu terlalu gemuk atau kurus," serta ungkapan-ungkapan lain.
6. Pasangan yang saling mencintai, apakah isteri sangat menyintai suami atau sebaliknya, akan selalu memberikan pujian yang sesuai baik dalam bentuk kata-kata mahu pun perbuatan.
7. Suami isteri akan berhubungan dan berbicara secara baik, dengan wajah yang berseri-seri dan sikap yang menyenangkan. Misalnya suami memeluk isteri sambil berjalan kaki ketika bersiar-siar kemudian pelukan itu disambut baik oleh isteri.
8. Setiap keberhasilan dan kejayaan selalunya mereka rasakan dan nikmati bersama. Misalnya diungkapkan dengan menepuk bahu isteri sambil memeluk dan menciumnya sebagai hadiah kejayaan.
9. Seorang pencinta biasanya seorang pendengar yang baik. Dia tidak akan berbicara sebelum pasangannya habis berbicara. Dia tidak akan memotong setiap perbicaraan suaminya. Ia baru akan berbicara bila diminta untuk memberi cadangan.

10. Suami isteri sanggup menerima kekurangan-kekurangan di antara mereka. Isteri yang sangat menyintai suaminya sanggup menerima hakikat keperibadiannya serta cara percakapan suaminya. Ia tidak sekadar menyintai suaminya lantaran suami pandai mencari harta dan wang.
11. Orang yang saling menyintai tidak akan berahsia antara sesama mereka. Tetapi selalu membahagikan rasa suka dan duka untuk diselesaikan bersama.
12. Pasangan yang bercinta sedar perkara-perkara yang dapat merunsingkan perasaan pasangannya. Mereka mengerti perasaan masing-masing. Misalnya isteri sedar jika menyampaikan masalah rumahtangga ketika suami sedang letih akan menimbulkan kemarahan suami.
D. Petua menjadi lelaki pilihan
Ciri-ciri lelaki pilihan:
1. Taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya
2. Mempunyai ilmu pengetahuan agama
3. Bekerja menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran
4. Mempunyai sifat berjuang mencapai kecemerlangan dalam hidup
5. Sentiasa membersihkan dirinya daripada sebarang kemungkaran
6. Selalu bertaubat dan memperbanyakan amalan-amalan sunat
7. Tidak mengharapkan balasan atau pujian apabila melakukan sesuatu
8. Tidak takut kepada cercaan orang yang suka mencela
9. Mengetahui dan faham serta mengamalkan segala kewajipannya dengan baik
10. Bersifat lapang dada, penyantun dan pemaaf
11. Berhemah tinggi dan cermat
12. Sentiasa tenang dan waspada
13. Jika ia berkahwin, dia dapat melayan isteri dengan baik kerana sebaik-baik suami adalah suami yang paling baik terhadap isteri
Lelaki pilihan wanita:
1. Bersifat pelindung dan bertanggungjawab
2. Bersifat tegas tetapi lemah lembut dan penyayang
3. Berpendirian teguh
4. Bersikap terbuka dan matang
5. Bertimbang rasa dan memahami jiwa wanita
6. Mempunyai sifat kepemimpinan.
7. Boleh berbincang dan berterus terang
8. Penyabar
9. Mempunyai perancangan dan matlamat hidup yang baik dan jelas
10. Cerdik dan bijaksana
11. Peramah dan mesra
12. Kerjaya yang terjamin
13. Berwawasan untuk kesejahteraan dunia dan akhirat.

E. Petua menghadapi pertengkaran
Tiada orang yang tak pernah bertengkar seumur hidup. Jarang kita temui sesebuah rumahtangga yang tak pernah bertengkar sama sekali semenjak hidup bersama kerana hidup yang tiada pertengkaran adalah hidup yang sendirian.
Hakikat pertengkaran:
1. Hampir seluruh perkahwinan mengalami pertengkaran, meskipun ramai orang malu mengakuinya. Sebenarnya jika sebuah perkahwinan tanpa pertengkaran sama sekali membuktikan matinya emosi. Bukanlah bererti pertengkaran itu baik namun pertengkaran juga mendatangkan kebaikan dan keburukan.
2. Jika terjadi pertengkaran kerana sesuatu yang tidak diingini berlaku dalam diri pasangan hidup. Tujuannya adalah agar sesuatu yang tidak baik itu hilang dari pasangannya, baik dalam bentuk peribadi maupun pekerjaannya.
3. Sebenarnya pertengkaran itu sebagai petanda awal dari sebuah Perkahwinan. Di mana suami isteri mulai cuba untuk menyatukan selera, tujuan dan keperluan hidup mereka. Jika mereka takut berbincang kerana kuatir akan berlaku pertengkaran, akhirnya ia akan menimbulkan masalah yang lebih besar pada masa akan datang.
4. Jika suami isteri bertengkar secara kecil-kecil tidak membawa kepada pergaduhan, akhirnya mereka akan dapat mengatasi perselisihan dan kemudiannya mereka akan merasa lebih akrab.
5. Jika seorang suami merasa marah terhadap seseorang di tempat kerjanya, setelah pulang ke rumah, mungkin ia akan meluahkan rasa marahnya itu pada isterinya. Jika anda berpendapat suatu kemarahan harus diluahkan, maka anda akan meluahkan pada isteri anda. Pada hal dalam Islam, kita disuruh bersabar.
6. Jika pertengkaran tidak dapat dielakkan lagi kerana mungkin salah menyampaikan sesuatu ataupun pasangan kita tidak mahu menerima hakikat diri kita, maka usahakanlah agar pertengkaran itu tidak membawa bencana. Perhatikan keadaan persekitaran agar tiada pihak lain ikut sama atau menjadi tekanan perasaan.

Petua-petua menghadapi pertengkaran:
1. Jika terjadi pertengkaran, maka janganlah mencari kelemahan pasangan kita. Dan tidak wajar pertengkaran tersebut hanya ingin mencari kemenangan. Tetapi usahakanlah untuk menyelesaikan masalah secara bersama.
2. Jika pertengkaran itu menyangkut tentang satu topik, janganlah masalah-masalah lain dimasukkan sama lerana ia akan menjadikan suatu pertengkaran yang besar yang boleh membawa bencana.
3. Batasi kekasaran jika berlaku pertengkaran. Jangan bertindak menggunakan fizikal seperti memukul, melemparkan barang dan sebagainya. Cara ini tidak akan menyelesaikan masalah malah akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
4. Di dalam pertengkaran, gunakan bahasa yang sesuai agar pasangan tidak tertekan. Katakata yang menyakitkan hatinya seperti: "Ini semua salah kamu...!", "Engkau bodoh...!", " Engkau selalu melakukan kesalahan...!" dan sebagainya. Sebaliknya gunakanlah perkataan yang lembut seperti, "Hati saya luka kerana perbuatan itu...", "Kamu tak sedar, betapa hancurnya hati saya..." dan lain-lain.
5. Setelah bertengkar, jangan biasakan diri suka menyendiri, kemudian menjauhkan diri dari pasangan hidup. Jangan memisahkan diri kerana ia tiada nilainya sama sekali dalam perkahwinan. Bahkan ia merugikan hubungan suami isteri.

6. Jangan cuba menggunakan seks atau wang untuk membalas pertengkaran kerana cara ini akan menyebabkan terjadinya pertengkaran yang lebih hebat.
7. Jangan membiarkan pihak ketiga ikut serta dalam pertengkaran keluarga. Kehadiran pihak ketiga misalnya mertua, ipar, adik-beradik hanya akan menambahkan kecurigaan dan mungkin menambah menyala api pertengkaran. selesaikan secara baik antara suami isteri.
8. Jangan bertengkar di depan anak-anak kerana ia akan menjadikan anak-anak bingung dan tertekan perasaan. Jika ini berlaku, akan wujud banyak lagi masalah lain.

F. Petua memilih wanita idaman atau perempuan
Tidak semua orang dapat memilih pasangan hidupnya sesuai dengan keinginannya. Tetapi ramai juga yang pandai menyesuaikan diri dengan pasangannya walaupun tidak menepati ciri-ciri wanita idamannya. Calon-calon isteri pilihan:
1. Wanita yang solehah
2. Wanita yang boleh melahirkan anak
3. Wanita yang bukan keluarga terdekat
4. Wanita yang berakal.

Di petik dari laman web: http://www.kusza.edu.my. Kuala Lumpur: Darul Nu’man.

12 Apr 2012

Siapa wanita dalam neraka ?.

Di sini saya ingin mengutarakan satu peristiwa yang telah disaksikan oleh Rasulullah s.a.w semasa dalam perjalanan Isra’ Mi’raj yang ada kaitannya dengan penghuraian tabarruj.

Diriwayatkan oleh Sayyidina Ali karam allahu wajhah:
“Saya dengan Fatimah pergi mengadap Rasulullah s.a.w kami dapati baginda sedang menangis lalu kami bertanya kepadanya:

“Apakah yang menyebabkan ayahanda menangis, ya Rasulullah?”Rasulullah menjawab:

“Aku lihat ada perempuan rambutnya tergantung, otaknya menggelegak.Aku lihat perempuan yang digantung lidahnya, tangannya terikat ke belakang dan Qathran (air yang menggelegak) dicurahkan ke dalam halkumnya. Aku lihat perempuan tergantung, kedua kakinya diikat, tangannya terikat di umbunumbunnya dan disuakan dengan ular dan kala. Aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api. Aku mlihat perempuan yang memotong tubuhya dengan gunting daripada api neraka. Aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri. Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, diisi ke dalam sebuah peti yang diperbuat daripada api neraka, otaknya keluar dari lubang hidungnya, badannya berbau busuk, kerana berpenyakit sopak dan kusta. Aku lihat perempuan yang kepalanya seperti khinzir, badannya seperti badan keldai, beribu-ribu kesengsaraan yang dirasainya. Aku lihat perempuan,rupanya seperti anjing, kala dan ular masuk ke kemaluannya, atau ke mulutnya dan keluar di duburnya. Malaikat memukul kepalanya dengan corong daripda api neraka”.

Fatimah pun berdiri dan bertanya kepada ayahnya:
“Ayahanda yang dikasihi, ceritakanlah kepada anakanda; apakah kesalahan yang dilakukan oleh perempuan-perempuan itu?”.

 Rasulullah menjawab:
“Fatimah, adapun perempuan yang tergantung rambutnya itu ialah perempuan yang tidak menutup rambutnya daripada lelaki yang yang bukan muhrimnya.

Perempuan yang lidahnya tergantung itu ialah perempuan yang menggunakan lidahnya untuk memaki hamun dan menyakiti hati suaminya.

Perempuan yang kedua-dua kakinya tergantung itu ialah perempuan yang keluar dari rumahnya dengan tidak mendapat keizinan daripada suaminya dan tidak mahu mandi suci daripada haid dan nifas.

Perempuan yang memakan badannya sendiri itu ialah kerana ia berhias untuk lelaki yang bukan suaminya dan suka mengumpat-ngumpat orang.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka, ia memperkenalkan dirinya kepda orang asing, bersolek dan berhias supaya kecantikannya itu dilihat ole lelaki lain.

Perempuan yang diikat kedua-dua kakinya, tangannya diikat ke arah umbun-umbun dan disuakan dengan ular dan kala, ianya boleh bersembahyang dan berpuasa, tetapi tidak mahu mengambil air sembahyang dan tidak mahu mandi janabah (junub).

Perempuanyang kepalanya itu seperti khinzir dan badannya berupa badan keldai ialah perempuan ahli pengumpat dan pendusta.

Perempuan yang seperti anjing itu adalah perempuan yang suka membuat fitnah dan membenci suaminya”.


petikan:  Ustazah Ni’mat Sidqi (Seorang Ulamak Wanita Mesir-1930M-Terjemahan

2 Apr 2012

Awasilah kesesatan fahaman fasif

Ramai di kalangan masyarakat Islam yang memiliki sijil yang tinggi, tapi malangnya mereka pasif dalam hal yang mereka sendiri anuti. Akibat dari kesempitan fahaman tadi, akhirnya muncullah ISU baru yang mengelirukan. Di antaranya (mereka mengatakan) bermake-up dibolehkan. Isu tersebut cuba diterapkan dalam masyarakat dan cuba dikemukakan bersandarkan kepada alasan-alasan dan fakta-fakta berikut:

1. Bermake-up hanyalah dosa kecil
2. Ianya merupakan simbol ketamadunan
3. Tidak sanggup menentang suasana dan keadaan masyarakat sekeliling
4. Faktor utama untuk segera ke jinjang pelamin
5. Ta’at kepada suruhan suami
6. Umur sudah tua, tiada sambutan orang yang melihat
7. Muka dan rupa yang cantik

Idea yang tersebut, semuanya tidak berasas, malahan lahir dari emosi dan dorongan hawa nafsu semata-mata.Generasi terpelajar memang mampu untuk berdialog. Mereka banyak buah fikiran, banyak maklumat, sanggup pula berhadapan dengan masyarakat, samada masyarakat bawahan atau atasan. Tapi sayang, pertahanan mereka hanya berteraskan hawa nafsu. Mereka mahu menegakkan benang yang basah. Sikap mereka ini tak ubah seperti sikap orang-orang kafir sepertimana yang terdapat di dalam firman Allah yang bermaksud:

 “……..tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil yang sedemikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayatKu dan peringatan peringatan terhadap
mereka sebagai olok-olokan” (al-Kahfi: 56).

Jika benar golongan ini benar-benar terpelajar serta faham segala suruhan Allah dan RasulNya, maka jadilah diri kamu semua sebagai cemin tempat masyarakat mendapat panduan. Mudahan-mudahan teladan ini semua dapat dijadikan contoh, sekurang-kurangnya untuk kaum sejenis kamu. Sekiranya kamu semua telah menghayati suruhan Islam dengan terperinci,masyarakat akan terjamin dari sebarang fitnah, hidup masyarakat aman damai, negara juga akan rturut menjadi makmur. Memang benar, kaum wanita laksana srikandi negara.

Jika mereka siuman, makmurlah negara, andaikata mereka runtuh, hancurlah negara. Persaingan idea sudah menjadi lumrah insan, tetapi dalam soal pokok atau dasar (prinsip) jangan pula berbalah. Umpamanya ada terdapat di kalangan kaum bijakpandai yang melahirkan kepura-puraan yang seakan-akan diterima fikiran sama sekali tidak berasas. Seperti kata mereka, “bermake-up, di samping itu kita juga tunaikan ibadat yang disuruh seperti sembahyang, berpuasa di bulan Ramadhan, bersedekah, mengerjakan haji dan lain-lain lagi. Hasil dari semua ini,tentu terhapus semua dosa-dosa kecil”.

Jika benar sebagaimana yang didakwakan mereka, sekarang mari kita berdiskusi. Sudah berapa kali kita bermake-up di waktu keluar dari rumah. Sudah banyak bukan!!?? Dan sekarang juga masih berpura-pura. Cuba kita semak kembali dan hitung dengan teliti. Berapa banyak kesalahan seperti ini yang kita telah lakukan. Jawapannya juga banyak. Natijah dari kesalahan yang banyak, tentu dosanya juga banyak. Malahan kamu meringan-ringankan suruhan Allah itu juga merupakan seuatau kesalahan yang besar.

Harus diingatkan, orang-orang yang benar beriman dan bertaqwa kepada Allah, tak mungkin mengabai-abaikan segala suruhan dan perintahNya. Rasul s.a.w ada bersabda yang bermaksud: “Seorang mukmin terasa amat-amat berat dosanya laksana seberat bukit yang akan terhempas di atas kepalanya. Sebaliknya seorang munafik merasai dosa itu ringan, seringan seekor lalat yang hinggap di muka, sebelum ditampar sudah terbang”.

Sekian lama sudah kita meraba di dalam kegelapan, banyak pula onak dan duri kita rasai. Ayuh! Pintu taubat masih terbuka untuk siapa saja. Sekarang mari kira sama-sama bertaubat dan berjanji tidak akan mengulangi kembali dosa yang pernah kita lakukan. Mudah-mudahan dengan berbuat demikian, Allah s.w.t menerima setiap amalan kebaikan, terhapuslah pula dosa kesalahan. Untuk angkatan tersebut, Allah telah berfirman yang bermaksud: 

“……kecuali orangorang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amalan soleh, maka mereka itu, kejahatan mereka digantikan Allah dengan kebajikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang” (al-Kahfi: 56).

Wahai wanita-wanita Islam,tidak usahlah kamu semua membazirkan wang yang banyak untuk membeli alat-alat solek. Kemudian menghabiskan masa pula di hadapan cermin. Jika kamu juga berbuat demikian, sudah pasti kamu cuai terhadap sembahyang dan ibadat-ibadat yang lain. Jangan kamu jadikan diri kamu seperti kebanyakan manusia, sanggup membeli neraka walaupun dengan harga yang paling maksima, tetapi malangnya, tidak terdaya membeli syurga sedangkan harga syurga paling minima. Semua amalan kebaikan tiada bererti jika di samping kebaikan, kejahatan dan kemungkaran masih dikekalkan. Minyak dan air tidak pernah bercantum.

Allah memberi penjelasanNya di dalam firmanNya yang bermaksud:
“…..sesungguhnya sembahyang itu mencegah dari melakukan perkara-perkara yang keji dan kemungkaran….” (al-‘Ankabut: 45).

Rasul s.a.w pula ada bersabda yang bermaksud: 
“Andaikata sembahyang seseorang kamu tidak dapat menghalang nafsu dari melakukan kemungkaran, maka sudah tidak memberi erti sembahyang yang dikerjakan itu” 

Begitu juga dengan amalan-amalan yang lain seperti puasa dan sebagainya.Rasulullah s.a.w telah bersabda yang bermaksud:

 “Sesiapa yang tidak meninggalkan percakapan keji dan beramal pula dengan kekejian itu bukanlah Allah berhajat (untuk mendapatkan sesuatu) dari puasa seseorang kamu itu hanya meninggalkan makan dan minum (di waktu siang hari sahaja)”.

Terhadap golongan yang mendakwa bahawa setiap amalan baik boleh menghapuskan dosa kecil, memanglah benar. Tetapi jika kamu bertaubat dan merasa kesal terhadap sikap kamu yang lepas serta berjanji tidak akan mengulangi kembali, sedangkan kamu masih bersikap angkuh dan tidak mahu meninggalkan perkerjaan yang salah itu, ingatlah, amalan yang salah juga dapat mengjhilangkan pahala kebajikan. Ini telah dijelaskan oleh Allah s.w.t di dalam firmanNya yang bermaksud: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan RasulNya dan jangan kamu merosakkan pahala amalan kamu” (Muhammad: 33)

Benarlah apa yang dikatakan, setiap yang memiliki sertifikat masih ada yang jahil, iaitu mereka yang tidak mendapat hidayat dari Allah s.w.t.

Dalam kurun kedua puluh ini, pembangunan material berkembang dengan pesat. Boleh dikatakan harta benda adalah dacing timbangan manusia. Bagi golongan yang memliki keistimewaan tersebut, mereka membuat berbagai-bagai alasan, di mana lain mereka berkata dengan bangga, “Bermake-up juga adalah satu aspek yang perlu di zaman moden ini. Make-up adalah simbol ketamadunan di bidang pelajaran dan pembangunan. Wanita-wanita yang masih bertudung dan berpakaian menutup ‘aurat tidak sesuai lagi di zaman moden ini. Pakaian tersebut adalah lambang zaman primitif dan kolot”.

Tuduhan begini rupa adalah di luar kebenaran. Wanita-wanita Islam yang berpakaian menutup ‘aurat adalah wanita-wanita yang memahami ajaran Islam. Mereka bukan anti ketamadunan atau pro kepada zaman primitif seperti uang disangkakan, malahan inilah simbol keta’atan mereka terhadap suruhan Allah ‘Azzawajalla.

Jelas bagi kita, pesolek sebenarnya tidak mempunyai sifat malu. Sebagai bukti, kembali kita kepada masyarakat di zaman silam. Bukankah manusia di zaman itu berpakaian separuh bogel…? Kaum wanitanya pula mengambil bulubulu binatang dan ukiran-ukiran kayu untuk dijadikan bahan-bahan solek. Sisasisa
kaum ini masih kedapatan lagi hingga sekarang. Andainya wanita kota berpakaian separuh bogel serta menggunakan alat make-up, di manakah pula jurang perbezaan di antara wanita-wanita kota dengan wanita-wanita primitif yang masih tinggal di hutan? Pelan pakaian pada hemat saya adalah sama, cuma perbezaannya dari segi teknik dan fesyennya sahaja. Dari fakta-fakta ini semua, jelaslah bagi kita bahawa tuduhan yang dilemparkan kepada mukminat yang menghayati Islam, sama sekali tidak berasas. Ibarat kata “meludah ke langit, timpa batang hidung sendiri”.

Kebanyakan wanita sekarang menganggap bahawa setiap yang diimport dari Barat, semuanya moden dan bertamadun. Lantas mereka menerima  kesemuanya, walaupun perkara itu bercanggah dengan ajaran Islam yang murni tanpa mengkaji terlebih dahulu dengan panjang lebar. Tetapi kalau sesuatu perkara itu suruhan Allah, mereka merasakannya terlalu berat dan cuba menghabiskan masa denga berdialog dan sebagainya. Natijah ini semua, mereka sanggup berkata, “Kami tahu suruhan tersebut, tetapi kami tak sanggup menghadapi suasana sekeliling. Kemungkinan bertudung dan berpakaian menutup ‘aurat kami menjadi sasaran ejekan teman-teman, lagi pun cuaca bukankah panas…?”. Ke atas golongan ini, Allah telah berfirman yang bermaksud:

“Katakanlah, api neraka jahanam itu lebih panas jika mereka mengetahui” (al-Taubah: 81).

Duhai pemudi-pemudi Islam! Kenapa kamu sanggup menjadi pengikut yang pasif – pengikut yang memihak kepada majoriti semata-mata – tanpa menilai kebenaran dan kualiti. Harus kamu ingat, tidak pasti setiap kebenaran berada di pihak yang banyak.

Sebenarnya kamu telah ditipu oleh ketamadunan yang palsu. Lantaran kamu kurang pengetahuan agama dan lemah keimanan, sikap dan mental tidak seperti pelampung di permukaan air. Andainya angin menghembuskan ke Barat, ke Baratlah dia, jika angin ke Timur, ke Timurlah dia. Tetapi jika seorang yang
keimanannya kukuh biarpun yang datang ribut taufan namun berganjak tidak sekali. Terhadap mereka yang berkiblatkan Barat, bertuhankan harta benda (material) ingin disarankan di sini maksud-maksud Hadith Rasulullah s.a.w khasnya untuk mereka yang lalai sebagai pengajaran:

1. Siapa yang cintakan sesuatau bangsa, nescaya dia juga bersama-sama mereka di hari Mahsyar kelak.

2. Siapa yang mengikuti dan menyerupai sesuatu golongan manusia, bererti dia juga termasuk golongan itu.

3. Janganlah kamu hanya menjadi pengikut seperti berkata, “Saya memihak kepada golongan ini, jika mereka baik, saya juga tumpang mendpat kebaikan tersebut; jika mereka salah, saya juga bersalah”.
Jangan bersikap demikian, malahan pastikan diri kamu di pihak golongan yang benar. Jika mereka melakukan kesalahan juga, kamu mesti menjauhi mereka.

4. Masih ada di kalangan umatku yang berdiri di atas kebenaran. Mereka ini tak mungkin diperkotak-katikkan oleh suasana masa dan keadaan hingga dibangkitkan di akhirat kelak.

Oleh: Ustazah Ni’mat Sidqi

27 Mac 2012

Bersolek adalah tanda kekolotan

Wanita bersolek, alamat lemah mentalnya. Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w yang bermaksud:

 “Setiap wanita ada kelemahannya, lemah tenaga berfikir dan lemah soal-soal agama”.

Di zaman silam, amalan bermake-up – wanita-wanita mendedahkan kecantikan rupa paras – adalah merupakan satu perkara tradisi. Di zaman moden ini pula, masih ada lagi golongan wanita yang cuba memulihkan setiap amalan kolot dahulu dan dipolularkan pula dengan teknik dan cara yang moden. Lantaran inilah Allah melarang sikap golongan tersebut. Larangan ini termaktub di dalam firman Allah yang bermaksud: 

“Dan janganlah kamu bersolek seperti solekan orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (al-Ahzab: 33)

Pujangga Arab pula ada berkata: “Otak kolot gemarkan perhiasan. Mental terpelajar tidak berhajat sebarang perhiasan”. Keadaan hidup orang terpelajar Islam adalah normal. Mereka tidak tamak perhiasan yang banyak, malahan ilmu pengetahuan yang ada di dada mereka sudah cukup sebagai perhiasan diri. Beginilah keadaan manusia, andaikata perhatian ditumpukan kepada kerohanian sepenuhnya, alamat berkuranglah perhatian ke bidang material. Tapi tidak mengapa, ukuran manusia di hati dan lisannya, bukan ukuran terletak di kot atau di gaunnya.

Seorang penyair Arab pernah bersyair dengan katanya:
Ambillah jiwa yang suci ini
Lengkapkan pula budi pekerti
Tidak kebahagian di rupa paras
Tapi berbahagia di jiwa yang murni!

Si pesolek tidak ubah seperti kanak-kanak. Sukakan pakaian yang barubaru dan moden. Tapi untungnya, kanak-kanak tidak membazirkan masa berjamjam di hadapan cermin. Malangnya, kakak-kakak yang telah dewasa melakukan ini semua. Berjam-jam masa dihabiskan di hadapan cermin. Mereka ini sudah pandai menilai kecantikan tubuh kononnya. Andainya diletakkan fesyen ini ke badan, semakin bergayalah, dan jika dibedak semakin berserilah wajah yang sedia ada? Kepastian ini dapat dijawab oleh cermin di hadapannya. Jika tak puas dilihat di rumah, bukankah ada cermin mini yang tersedia ada di dalam beg tangannya?


Sungguh aneh, di zaman ini pun terdapat sesetengah siswazah yang terikutikut dengan suasana dan keadaan. Mereka juga bermake-up dan berpakaian seperti orang yang tidak berpelajaran. Maka akibatnya bukankah sama….?? 

Ini dapat kita perhatikan dari firman Allah yang bermaksud:
 “…..Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikut hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (al-Qasas: 50)

Siksaan yang lebih dahsyat akan diberikan kepada wanita terpelajar andainya mereka tidak menghayati apa yang mereka pelajari. Penjelasan tersebut dapat dilihat dalam firman Allah yang bermaksud: “Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa. Dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya, kemudian dia tetap menyombong diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri khabarlah dia dengan azab yang pedih” (al-Jathiah: 7-8)

Ada pula golongan yang berpendapat bahawa Allah tidak memaksa sesiapa malahan memberi kuasa kepada manusia untuk memilih. Jika ada syariat Islam yang sesuai dengan kehendaknya, boleh dikerjakan. Jika tidak ada, boleh ditinggalkan begitu sahaja. Terhadap golongan ini, jangan lupa pula Allah ada berfirman yang bermaksud:
 “….Apakah kamu beriman kepada sebahagian al- Kitab (Taurat) dan engkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksaan yang sangat berat. Dan (ingatlah) Allah tidak sekali-kali lalai dari apa yang kamu lakukan” (al-Baqarah: 85).

Bukan semua perundangan dan suruhan Allah mengikut kehendak dan hawa nafsu manusia seperti firman Allah yang bermaksud: “Andaikata kebenaran itu menurut hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini serta semua yang ada di dalamnya” (al-Mukminun: 71)

Dan firmanNya yang lain yang bermaksud: “Dan tidaklah patut bagi lelaki yang mukmin dan bagi perempuan mukminat, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka dia telah sesat yang nyata” (al-Ahzab: 36).

Beginilah situasi hidup manusia semua kiranya hidup dikuasai nafsu, suruhan yang baik dirasai bagai hempedu, maksiat terkutuk disangkakan madu. Manusia begini terdapat dalam firman Allah yang bermaksud:

 “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup pada penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah. Maka apakah kamu tidak mengambil pengajaran?” (al-Jathiah: 23).

23 Mac 2012

Satu kehinaan

Sebilangan besar wanita sekarang berlagak bagaikan pengantin baru bila keluar dari rumah. Mereka berpakaian indah mengikut fesyen. Ada pula kain bajunya terlalu nipis hingga terbayang bentuk ukuran badan. Dengan perbuatan ini, seolah-olah mereka berkata-kata di dalam hati: 

“Siapakah tidak terpesona bila melihat keindahan fesyen pakaian yang membalut tubuhku? Siapakah tidak tertarik pada bentuk badan dan langkahku dan siapa….?”

Sedarkah mereka bahawa perbuatan tersebut tak ubah langkahnya seperti penjual manik-kuran di jalan-jalan atau di kaki lima. Setiap yang lalu pasti memerhatikan. Jika tidak melihat, penjual sendiri datang menawarkan diri. Tapi sayang ……! Ramai pemerhati dari pembeli.Andainya golongan ini berfikir sejenak, nescaya timbul perasaan malu. Natijahnya, sudah pasti mereka akan menutup ‘aurat dan keindahan rupa paras mereka. Allah s.w.t ada berfirman yang bermaksud: 

“Hai Nabi ‘Alaihissalam, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuan dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab. Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali. Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang” (al-Ahzab: 59).

Sekitar ayat tadi, dapatlah difahamkan bahwa Allah s.w.t telah menjelaskan kedudukan wanita-wanita yang baik. Sebagai model untuk Muslimat semua, Rasulullah s.a.w menyuruh isteri-isteri dan anak-anak perempuan supaya mereka memakai jilbab (purdah).

Wahai wanita-wanita yang beriman! Hendaklah kamu semua berpakaian menutup ‘aurat. Setiap pergaulan dan percakapan mestilah berpandukan Islam. Dari aspek-aspek inilah dapat diukur sejauh manakah keimanan kamu dalam melaksanakan suruhan Allah dan RasulNya.

Tanggungjawab yang anda semua lahirkan itu merupakan satu kaedah yang boleh menjadi tauladan kepada wanita-wanita yang lain. Di samping itu pula, dapat dibezakan di antara golongan yang beriman lagi beramal dengan golongan yang tidak beriman. Golongan beriman sudah tentu dihormati dan disegani oleh setiap golongan dan lapisan masyarakat.

Duhai belia-beliawanis Islam! Andainya pakaian dan tingkah laku anda tidak ada bezanya dengan penari-penari di kelab malam, atau pakaian kamu sama sahaja dengan pakaian wanita-wanita yang tidak beriman, di manakah letaknya bukti dan di manakah letaknya keperibadian sebagai wanita Islam? Iman terletak di hati sudah tentu tidak dapat dilihat. 

TETAPI penzahiran keimanan dapat dilihat dari amalan dan pakaian serta tingkah laku. Bertudung kepala dan berpakaian menutup ‘aurat adalah di antara lambang wanita Islam. Perkara tersebut menjadi bukti di sisi wanita Islam dan melambangkan kemuliaan dan ketinggian moral serta budi pekerti mereka. Awasilah diri kamu wanita-wanita Islam. Tutuplah ‘aurat kamu seperti yang disuruh oleh Allah dan RasulNya. Dengan tudung dan pakaian demikian kamu tak mungkin mengalami pandangan-pandangan liar, sindiran-sindiran yang tajam dan teguran-teguran sinis dari jejaka di kaki lima. Setiap jiwa dan anggota yang bersih, sudah pasti tidak rela dinodai. 

Berbeza dengan kaum wanita yang tidak beriman, jiwa raga mereka ini semua sudah jelas tidak bersih, sebab itulah kata-kata menyindir dan renungan yang tajam tidak terasa menghina. Jika kata kata kesat seperti ini sudah terasa menyentuh perasaan mereka, tergoda sanubari, tentulah mereka sanggup menghabiskan wang ringgit yang banyak untuk membeli alat-alat solek, pakaian-pakaian yang mendedahkan ‘aurat mereka. Bukankah perbuatan ini semua untuk dijadikan ‘Free Show’, tontonan bebas, siapa saja boleh melihat dan menatap dengan sepuas hati tanpa bayaran tertentu.
Allah s.w.t telah menciptakan manusia dengan seindah-indah kejadian.

Kaum wanita diciptakan sesuai dengan sifat keperempuanan dari segi jasmaniah dan naluri. Oleh itu kenapakah kaum wanita rela menukarkan dari rupa paras yang normal kepada wajah yang berlainan dari yang asal. Apakah mereka belum berpuas hati dengan kejadian naluri yang ada pada mereka….?

Seorang sasterawana Perancis yang terkenal berkata: “Secantik-cantik seorang gadis ialah yang tidak menyedari kerupawanannya”. Si cantik manis lagi rupawan tidak akan berhajat kepada segala alat-alat solek kerana ia sudah berpuas hati dengan apa yang ada padanya. Tetapi kenapakah masih ada yang berpurapura menampakkan kejelitaannya andainya ia tidak memiliki kecantikan seindah orang lain. 

Muka yang berkerut dan berbintil-bintil ditempel bedak. Bibir yang pucat digincu. Rambut yuang pendek bagai wanita Habsyi ditambah dengan ciptaan palsu. Yang panjang dipendekkan hingga sukar dikenali jantinanya. Buah dada yang kempes disarungkan dengan coli yang besar lagi tajam. Apakah dari tindakan yang kamu ada-adakan ini semua boleh menguntungkan?

Sebenarnya pemuda yang siuman lebih mengerti manakah gadis yang asli dan manakah pula gadis celupan. Walaupun ditampal dengan seribu jenis alat solek, namun rugi di dunia dan di akhirat. Di dunia, kamu ditertawakan atau dipermain-mainkan orang, sedangkan di akhirat pula, kamu pasti menerima siksaan!
.

Oleh: Ustazah Ni’mat Sidqi

22 Mac 2012

Tabarruj

Tabarruj ialah mendedahkan kecantikan rupa paras, samada kecantikan itu di bahagian muka atau di anggota-anggota badan yang lain. 

Al-Bukhari RahmatuLlahi ‘Alaihi ada berkata:

 “Tabarruj, iaitu seseorang wanita yang memperlihatkan kecantikan rupa parasnya.”
 
Untuk menjaga masyarakat dari bahaya pendedahan ‘aurat dan di samping menjaga kehormatan wanita dari sebarang pencerobohan, maka dengan yang demikian Allah melarang setiap wanita yang telah berakal lagi baligh dari bermake-up (tabarruj).

Maka dengarlah wahai belia-beliawanis Islam semua, segala suruhan Allah s.w.t andainya anda semua beriman denganNya, Allah telah berfirman dalam al- Quran melalui surah al-Nur, ayat 31 yang bermaksud:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan jangan menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, putera-putera lelaki mereka, atau puteraputera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang ‘aurat wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Ketahuilah bahawa kain tudung yang dimaksudkan Allah dan dalam firmanNya yang bermaksud: 

“Hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya”(al-Nur: 31)

bukanlah terhenti di bahagian kepala sahaja, malahan menutupi bayangan mutiara yang tersisip di dada juga disuruh. Sesiapa yang mendedahkan bahagian kepala atau bahagian dadanya, maka sudah jelas, ia bukan dari seorang yang menghormati suruhan Allah s.w.t. Akibat dari kecuaian dan kelalaian tersebut sudah pasti seseorang itu menerima azab yang pedih di hari akhirat kelak.

Awas! Wahai golongan wanita, Allah telah berfirman yang bermaksud:

“Janganlah menampakkan perhiasan”(al-Nur: 31). Dengan ini jelas bahawa sebarang corak perhiasan di anggota badan atau di pakaian, adalah boleh membawa fitnah. Dengan inilah Allah melarang bermake-up. Larangan seperti ini hanya sanggup ditaati oleh wanita-wanita yang beriman sahaja kerana takut kepada kemurkaan Allah dan siksaan dariNya.

Pengertian perhiasan bukanlah terhad pada alat-alat solek atau fesyen-fesyen pakaian sahaja, malahan perhiasan yang paling istemewa adalah terletak pada tubuh badan seseorang wanita itu. Sekiranya kecantikan rupa paras seperti ini didedahkan kepada orang lelaki, maka perbuatan demikian juga dinamakan TABARRUJ!.

Ada pula dikalangan wanita yang bertudung, disamping tudung ini diletakkan pula di atasnya kaitan bunga dan ukiran yang menarik, manakala rambutnya yang di bahagian hadapan sengaja dihulurkan keluar dari kain tudung, dan terjuntai menutupi sebahagian dahi dan lesung pipitnya. Andainya angin bayu meniup lalu, sudah jelas rambut tadi terlambai-lambai mengikut arus bayu.

Ada fesyen pula, rambutnya disanggul dan dihias pula laksana mahkota, kerana dengan ini, setelah nanti dilekatkan dengan kain tudung, semakin jelas bentuk (tubuh badan) dan keindahan mahkotanya.

Idea dan usaha ini dilakukan supaya tambah menarik setiap mata memandang, dan kononya supaya dianggap orang, bahawa ia juga seorang yang mentaati Allah, di sampung pandai pula menyesuaikan diri dengan berbagai-bagai fesyen pakaian mengikut keadaan zaman.

Sebenarnya maksud dan usaha anda sedemikian rupa adalah salah. Allah s.w.t lebih mengetahui segala persoalan yang tersirat di dalam otak anda. Penzahiran tindakan ini bererti kamu menipu diri sendiri. Akhirnya anda juga tergolong di dalam golongan wanita-wanita yang bermake-up seperti dan firman Allah dalam ayat yang lalu, dan padahnya bukan sama??!!

Dari sini mari pula kita meninjau ayat Al-Quran yang bermaksud:
“Dan jangan mereka menghentakkan kaki agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan” (al-Nur: 31). 

Dari kandugan ayat ini, Allah juga melarang setengah golongan wanita (tradisi mereka ini bergelang kaki) dari menghulurkan kaki hingga terlihat perhiasan tersebut.Andainya baju yang dipakai menutupi ‘aurat, tetapi oleh kerana hoyongan badan ketika berjalan, pakaian itu turut terhoyong hingga kadang-kadang ternampak bentuk badan di setengah bahagian anggota, keadaan seperti ini dimaafkan.

Berikut pula mari kita merenung firman Allah khasnya yang ditujukan kepada isteri-isteri Rasulullah s.a.w yang bermaksud:

“Hai isteri-isteri Nabi (a.s), kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Kerana itu janganlah kamu terlalu lunak dalam bicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada perasaan serong di dalam hatinya, tetapi ucaplah perkataan yang baik.” (al-Ahzab: 32)

Dari ayat ini dapatlah difahamkan bahwa suara lemah-lembut adalah sebahagian daripada ‘aurat wanita juga.Kembali lagi kita kepada jenis alat-alat make-up.

 Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Andainya wanita keluar dari rumah serta memakai bau-bauan,
maka dia sudah dianggap melakukan perzinaan.”

Penggunaan wangi-wangian sembur atau jenis-jenis bauan bagi kaum wanita di waktu keluar dari rumah adalah dilarang, kerana syari’at Islam, apabila melarang perzinaan, maka segala sumber-sumber dan ciri-ciri yang membawa kepada perbuatan keji tadi semuanya juga dilarang.

Ummu Salamah ada menceritakan, maksudnya begini: Asma’ binti Abu Bakar telah menziarahi Rasullullah s.a.w pada suatu hari dengan berpakaian nipis.Lantas Rasulullah s.a.w menasihatinya dengan bersabda yang maksudnya:

“Wahai Asma’, sesungguhnya seseorang gadis yang telah berhaid (baligh), tidak harus baginya menzahirkan anggota badan, kecuali ini dan ini.” Di samping itu Rasulullah mengisyaratkan kepada muka dan dua tapak tangan. Alangkah bahagianya seorang wanita andainya ia bersifat sederhana di luar rumah, tetapi menjadi peragawati di dalam rumah. Sudah tentu ia tidak menerima teguran yang banyak, kerana bukan mudah untuk melayan selera jumhur (orang ramai), tetapi suami di rumah mudah dilayan. Jika masih ada teguran darinya itulah alamat suami yang sayangkan isterinya. Besok atau setelah menerima wang gaji, segala kehendak pasti dipenuhi.
Kesimpulan maksud hadith di atas, bolehlah difahamkan bahawa Allah s.w.t membenarkan bagi wanita membuka muka dan dua tangan jika anggotaanggota tersebut tidak disolek. Andainya anggota-anggota tersebut dihiasi, umpamanya muka berbedak, kening bercelak, bibir bergincu dan sebagainya, maka kawasan muka seperti ini wajib juga ditutup dengan kain tudung. Begitu juga dua tapak tangan hingga ke pergelangan. Andainya dihiasi (seperti berinai atau seumpanya) maka wajiblah ditutup seperti bersarung tangan.

Tujuan suruhan ini adalah untuk menghindarkan dari berlaku sebarang kemungkaran. Setelah seseorang wanita tidak lagi bersolek kecuali untuk dipersembahkan kepada suaminya, maka tertegaklah suatu benteng yang dapat menyekat sebarang renungan dan kerlingan mata keranjang.
Pendedahan perhiasan yang dilakukan oleh wanita dengan mempamerkan kejelitaan tubuh mereka dianggap sebagai satu penipuan yang besar terhadap lelaki. Pendedahan tersebut boleh menimbulkan berahi setiap lelaki, istimewa pula bagi mereka yang mempunyai syahwat haiwaniah. Perbuatan tadi umpama membentangkan juadah makanan di hadapan mereka, mata siapkah yang tidak terbeliak ? Selera siapakah yang tidak terbuka ? Natijah daripada ini pula Allah s.w.t tidak ketinggalan untuk memerintah kaum lelaki supaya mereka memelihara penglihatan mereka daripada melihat perkara-perkara yang diharamkan.
Larangan tersebut terdapat di dalam firmanNya yang bermaksud: “Katakanlah kepada orang lelaki yang beriman: Hendaklah mereka memelihara (menahan) pandangan dan memelihara kemauluannya.”(al-Nur: 30)

Demikian juga Allah menyuruh perempuan supaya menahan pandangan mereka dengan firmanNya: “Hendaklah mereka menahan pandangannya…..”

Analisa ini semua ialah: Pandangan boleh membawa kepada zina.

Oleh: Ustazah Ni’mat Sidqi (Seorang Ulamak Wanita Mesir-1930M

Masjid Solatiah GR

http://picasion.com