Dikuasakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
ipoh, perak
X KAGAT....?.

SMS ampang ipoh 24 /6/ 11

gif webcam

DI SMA Chemor 13/5/12

pictures to gif

Di SMA Chemor

animated gif maker

Guru Pendidikan Islam Ulu Kinta Jun 13

http://picasion.com/i/1VkmT/

20 Jul 2010

SEGERALAH BERTAUBAT


Bertaubat dan menyesali diri. Jika Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya. Dia pasti membukakan pintu taubat, penyesalan, kepatuhan, merasa hina dihadapanNya,merasa perlu kehadhiranNya, minta pertolonganNya, berlindung kepadaNya, memohon dan berdoa kepadaNya, mendekatkan diri kepadaNya dengan melakukan amal kebaikan sedaya-upaya. Perbuatan jahat itu ternyata menjadi penyebab turunnya rahmat Allah.
1. Abu Hurairah r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar (minta ampun) dan bertaubat kepada Allah setiap hari, lebih daripada tujuh puluh kali. (Bukhari)
2. Abu Musa Al-Asy'ary r.a. berkata, "Bersabda Nabi s.a.w. "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan rahmatNya pada waktu malam supaya bertaubat orang yang telah melakukan maksiat pada siang hari, juga mengulurkan tangan kemurahanNya pada waktu siang, supaya bertaubat orang yang berdosa pada waktu malam. Keadaan itu tetap berlangsung hingga matahari terbit dari arah Barat." (Muslim)
3. Abu Hurairah r.a. berkata, "Bersabda Rasulullah s.a.w. "Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah menerima taubatnya." (Muslim)
4. Abdullah bin Umar r.a. berkata, "Bersabda Nabi s.a.w. "Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seseorang hambaNya selama ruh (nyawanya) belum sampai di tenggorokan (hampir mati). (At-Tirmizi - hadith bertaraf 'hasan')

18 Jul 2010

KEKALKAN NIKMAT ISLAM

Saudaraku, Tahukah mengapa ada orang yang sejak lahir muslim, setelah dewasa pun muslim, namun ketika matinya menjadi kafir? Ingat kisah barsiso dan bal`am bin ba`uro, mereka yang awalnya abdi Alloh, namun ketika matinya menjadi abdi syetan! Naudzubillah. Ulama berpendapat bahwa penyebabnya adalah, karena mereka kurang bahkan tidak pernah mensyukuri keislamannya.
Untuk itu, agar nikmat iman dan islam yang telah Allah berikan ini tidak Alloh cabut dan tetap kita miliki sampai mati, mari kita perbanyak syukur kepada-Nya dan terus menyembah-Nya. Karena Allah berfirman:Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu (Ibrahim: 7)
Semoga kita dijadikan hamba-Nya sampai mati. Amien

13 Jul 2010

ZUHUDLAH DIDUNIA


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya". HR. Bukhari.
Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim di atas, ada tiga kelompok yang merupakan sebaik-baik manusia, yang hidup sezaman dengan Nabi saw yakni para sahabat, zaman setelahnya yakni tabi'in dan zaman setelahnya lagi, yakni generasi tabi'ut tabi'in.
Mereka dipanggil sebagai Salafush Sholeh karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya.
Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri. Mereka adalah generasi terbaik yang berserah diri (Islam) kepada Allah.
Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan, seolah-olah mereka melihat-Nya walaupun mereka tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat mereka.
Sekarang kita yang jauh dari masa generasi terbaik itu, mulai timbullah sikap "membela diri" yang sesungguhnya adalah memperturuti hawa nafsu. Nah, memperturuti hawa nafsu inilah yang menghijab kita dari "seolah-olah kita melihatNya"
Apa akibatnya bagi kita kaum muslim yang tidak lagi dapat atau terhijab dari "seolah-olah kita melihatNya".Sebagian dari kita berani membuka aurat, setengah bogil bahkan bogil di depan kamera atau di depan orang lain.
Bahkan ada pula yang berani melakukan perbuatan zina di depan kamera atau di depan orang lain.
Jelas sudah bahwa mereka memperturutkan hawa nafsu sehingga menghijabi dirinya dari "seolah-olah melihatNya". Sikap "membela diri" mereka adalah atas nama seni, hak asasi manusia atau hak pribadi, kami lakukan atas kesukaan bukan paksaan, tidak mengganggu orang lain, dan lain-lain alasan.
Begitu pula sebagian dari muslim yang mengkhawatirkan akan terjadi kemunduran masyarakat Islam terutama dari segi ekonomi dan urusan duniawi, dalam mereka memahami sebuah hadits "Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir" (HR Muslim).
Kekhawatirkan mereka sesungguhnya adalah sebuah bentuk sikap "membela diri" karena pandangan mereka yang sebenarnya menjurus kepada materialisme dan mereka terhijab dari "seolah-olah melihatNya".
Mereka memahami firman Allah yang artinya "Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga" (QS ar Rahmaan: 24) dimana bagi mereka yang dimaksud dua syurga adalah syurga dunia dan syurga akhirat.
Padahal Allah telah menggambari tentang dunia pada firmanNya, antara lain yang artinya:
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS al Hadid : 20)
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Al-Ankabut: 64)
Mereka membela diri, oleh karena mereka muslim maka mereka berhak atas penghidupan yang baik di alam dunia dibandingkan orang kafir.
Mereka yakin bahwa mereka dicintai Allah sehingga mereka merasa wajar meraih kehidupan ekonomi yang lebih baik bahkan kaya raya. Padahal anjuran (sunnah) Rasulullah SAW agar kita dicintai Allah dan dicintai manusia adalah sebagaimana sebuah hadits
Dari  Abbas — Sahl bin Sa'ad As-Sa'idy — radliyallahu `anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia." Maka Rasulullah menjawab: "Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu." (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).
Zuhud adalah tidak adanya ketergantungan dan terpusatnya perhatian terhadapnya.
Bersikap qanaah terhadap rizki yang halal dan ridho terhadapnya serta bersikap `iffah dari perbuatan haram dan hati-hati atau bahkan menghindari terhadap syubhat.
Jiwa yang merasa cukup dan iffah serta berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah merupakan hakekat zuhud.
Zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, bererti menjauhkan diri dari merasa iri hati terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta mengosongkan hati dari mengingati harta milik orang..
… (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Al-Hadiid :23)
Ibnu Mas'ud ra. melihat Rasulullah saw. tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, "Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?" Maka Rasulullah saw. menjawab, "Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang hampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya." (HR At-Tirmidzi)
Rasulullah saw. bersabda:"Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka." (Muttafaqun `alaihi)
Kehidupan zuhud ini dicontoh oleh para sahabatnya: Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah beberapa sahabat yang kaya raya, tetapi tidak mengambil semua harta kekayaannya untuk diri sendiri dan keluarganya. Sebagian besar harta mereka habis untuk dakwah, jihad, dan menolong orang-orang beriman.
Mereka adalah tokoh pemimpin dunia yang dunia ada dalam genggamannya, namun tidak tertipu oleh dunia. Bahkan, mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat dengan segala kenikmatannya. Abu Bakar berkata, "Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami."
Suatu saat Ibnu Umar mendengar seseorang bertanya, "Dimana orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat?" Lalu Ibnu Umar menunjukkan kuburan Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar, seraya balik bertanya, "Bukankah kalian bertanya tentang mereka?"
Abu Sulaiman berkata, "Utsman bin `Affan dan Abdurrahman bin Auf  ada dua gudang harta dari sekian banyak gudang harta Allah yang ada di bumi. Keduanya menginfakkan harta tersebut dalam rangka mentaati Allah, dan bersiap menuju Allah dengan hati dan ilmunya."
Dengan demikian hanya orang yang berimanlah yang dapat memakmurkan bumi dan memimpin dunia dengan baik, karena mereka tidak menghalalkan segala cara untuk meraihnya.
Demikianlah cara umat Islam memimpin dunia, mulai dari Rasulullah saw., khulafaur rasyidin sampai pemimpin berikutnya.
Pemerintahan Islam berhasil menghadirkan keamanan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Perdaban dibangun atas dasar keimanan dan moral. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, salah satu pemimpin yang paling zuhud, masyarakat merasakan ketentraman, kesejahteraan, dan keberkatan. Tidak ada lagi orang yang miskin yang meminta-minta.
Dengan adanya sikap membela diri maka akan sulitlah mengamalkan sunnah Nabi untuk berlaku Zuhud di dunia. Sikap membela diri sesungguhnya adalah memperturutkan hawa nafsu sehingga menghijabi diri kita sehingga tidak mencapai keadaan "seolah-olah melihatNya".
Sikap diri, akhlak, budi pekerti, moral, bertalian dengan hati, ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha ,qanaah, tawakal, mengenal diri, mengenal Allah (ma'rifatullaH) adalah perihal yang wajib kita fahami .

7 Jul 2010

5 MAKSIAT DISEGERAKAN BALASAN


Daripada Ibnu Umar r.a berkata: “Pada suatu hari kami mengadap Rasulullah lalu Baginda bersabda: “Wahai orang Muhajirin, apabila kamu telah ditimpa bala dengan 5 perkara ini, maka tiada lagi kebaikan untuk kamu. Aku berlindung kepada Allah swt supaya kamu tidak menemui masa itu, perkara-perkara itu ialah; Mereka berani secara terang-terang melakukan penzinaan sehinggalah ditimpa wabak penyakit Tha’un yang sangat cepat merebak dan penyakit-penyakit lain yang belum pernah menimpa kepada orang-orang dahulu. Mereka ditimpa bala dengan kemarau (panas) yang panjang dan kesusahan mencari rezeki kerena melakukan penipuan di dalam sukatan dan timbangan serta dizalimi oleh para pemimpin mereka sendiri. Mereka tidak diturunkan hujan kerana tidak mengeluarkan zakat, andainya tiada binatang di muka bumi ini nescaya Allah swt tidak menurunkan hujan. Mereka melanggar janji-janji mereka dengan Allah swt dan RasulNya, lalu Allah swt membiarkan musuh menguasai mereka dan merampas sebahagian daripada apa yang mereka miliki. Pemimpin-pemimpin mereka tidak lagi melaksanakan hukum-hukum yang terkandung di dalam al-Quran dan tidak mahu menjadikannya sebagai pilihan, maka di waktu itu Allah swt menjadikan peperangan tercetus di kalangan mereka sendiri”. (riwayat Ibnu Majah)

1 Jul 2010

MIMPI IMAM MALIK


Pada suatu malam Imam Malik bin Anas bermimpi melihat Malaikatul Maut. Kemudian dia bertanya kepada malaikatul maut itu. “Ya Malaikatul Maut, masih tinggal berapa lama lagi usiaku?” 
Malaikatul Maut memberi isyarat dengan kelima jarinya. Imam Malik tidak mengerti maksud Malaikatul Maut itu. Maka ia bertanya lagi. 
“Lima apa ya Malaiktul Maut? Apakah 5 tahun? 5 bulan? 5 minggu? 5 hari?” Belum sempat mendengar jawapannya, Imam Malik r.a terbangun daripada tidurnya. 
Esok paginya beliau pergi menanyakan tentang mimpinya kepada seorang ahli  mimpi iaitu Imam Ibnu Sirin. Kata Ibnu Sirin, “Ya Malik, mimpi mu itu baik-baik sahaja. Malaikatul Maut tidak bermaksud mengatakan 5 tahun, 5 bulan, 5 minggu atau 5 hari. Tetapi ia hendak mengatakan kepadamu bahawa pertanyaan mu itu termasuk ke dalam lima rahsia ilmu ghaib Allah yang tidak diketahui oleh sesiapapun selain Allah SWT sendiri." 
Firman Allah SWT yang bermaksud: 
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang hari Qiamat; dan Dialah yang menurunkan Hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya esok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui  di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

29 Jun 2010

AKHLAK RASULLULLAH SAW


Sabda rasulullah s.a.w:
“Sesungguhnya dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging,apabila ia baik,baik pulalah seluruh badan. Tetapi apabila ia buruk (rosak), buruk pulalah seluruh badan.Ingatlah, ia adalah hati (jiwa)”. (Riwayat Bahari Muslim)
Islam adalah al-Din yang serba lengkap dan menyeluruh dalam pelbagai lapangan hidup iaitu aspek aqidah, syariah dan akhlak. Rasulullah telah menerima daripada Allah satu risalah lengkap tersebut melalui wahyu al-Quran al-Karim yang merupakan sumber rujukan utama Islam . Kemudian, Rasulullah diperintahkan untuk menyampaikannya kepada seluruh umat manusia di samping mempraktikkan ajaran-ajaran Islam yang terkandung di dalam al-Quran itu. Akhirnya, Islam diwarisi secara turun temurun dari satu generasi kepada satu generasi yang lain sebagaimana asalnya tanpa sebarang keraguan.
Firman Allah maksudnya: Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang sangat-sangat mulia. (Surah al-Qalam, ayat 4)
Perlu ditegaskan bahawa akhlak Islam bukan hanya sekadar dipraktikkan dalam lingkungan sesama Islam, bahkan hendaklah dipamerkan keindahan akhlak Islam kepada bukan Islam agar mereka sama-sama menghayati keindahan Islam mudah-mudahan hati mereka kelak akan terbuka untuk menerima Islam  sebagai cara hidup mereka. Lebih dari itu, Islam tidak pernah melarang untuk berbuat baik atau berakhlak mulia kepada bukan Islam, terutamanya dalam perkara yang berkaitan dengan kebajikan dan maslahah umat.
Skop akhlak Islam yang cukup menyeluruh dalam segenap aspek kehidupan ummah sejagat. Hanya akhlak Islam sahaja penyelesaian ampuh bagi segala krisis dan kemelut sosial yang melanda umat Islam dewasa ini. Akhlak Islam merupakan hasil amal ibadat yang berterusan di samping kemantapan iman yang bertapak kukuh dalam jiwa sanubari.
Keluhuran akhlak Nabi SAW ini adalah cermin yang bersih dan indah yang membawa kita untuk bisa berkaca dengannya di dalam kehidupan kita sesama manusia dalam segala lapisannya. Sebab akhlak Nabi adalah cerminan Al-Qur`an yang sesungguhnya. Bahkan beliau sendiri adalah Al-Qur`an hidup yang hadir di tengah-tengah ummat manusia. Membaca dan menghayati akhlak beliau berarti membaca dan menghayati isi kandungan Al-Qur`an. Itulah kenapa ‘Aisyah sampai berkata:
“akhlak Nabi adalah Al-Quran.”

26 Jun 2010

JANGAN BERHUTANG


Dosa berhutang tidak diampunkan Allah.ISLAM membenar, malah mengharuskan seseorang itu berhutang ketika berdepan dengan kesusahan dan kesempitan hidup yang membabitkan masalah kewangan. Pada masa sama, Islam memberi galakan kepada umatnya agar memberi bantuan dan pertolongan kepada mereka yang memerlukan dalam pelbagai bentuk seperti pinjaman secara hutang bagi meringankan beban yang ditanggung oleh mereka, lebih-lebih lagi dalam hal keperluan asasi.
Firman Allah bermaksud: "Sesungguhnya orang lelaki yang bersedekah dan orang perempuan yang bersedekah, serta mereka memberikan pinjaman kepada Allah (semata-mata untuk mendapatkan pahala) dengan pinjaman yang baik (ikhlas) akan digandakan balasannya dan mereka pula akan beroleh pahala yang mulia." (Surah al-Hadid, ayat 18)
Firman Allah bermaksud: "Dan bertolong-tolonglah kamu pada jalan kebaikan dan ketakwaan dan janganlah bertolong-tolong pada perkara dosa dan permusuhan." (Surah al-Maidah, ayat 2)
Namun, Islam begitu teliti dan memandang berat dalam soal memberi, menerima dan membayar semula hutang kerana ia membabitkan hubungan sesama manusia ketika hidup di dunia ini hingga ke akhirat kelak. Mengapakah anda berhutang?
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang itu terjebak dalam hutang antaranya ialah:
l. Ingin memenuhi kehendak dan tuntutan hawa nafsu untuk memiliki sesuatu yang tidak mampu ditunaikan kecuali dengan berhutang.
2 Pengaruh daripada sahabat handai atau jiran tetangga yang sering memberi galakan untuk berhutang. Lantaran itu dia berbuat demikian, walaupun pada hakikat dirinya itu tidak memerlukan, tetapi hanya untuk berbangga dengan apa yang dimilikinya.
3 Sikap tidak berasa puas dan cukup dengan apa yang dimiliki dan sanggup berhutang demi memenuhi kehendak dan hajatnya tanpa memikirkan akibat yang mendatang.
4 Kemudahan pinjaman yang disediakan oleh beberapa pihak tertentu seperti institusi kewangan dan perbankan bagi menggalakkan lagi amalan berhutang.
5 Berkehendakkan sesuatu benda yang membabitkan kebendaan dengan cepat dan segera walaupun hakikatnya dia tidak mampu berbuat demikian.
Dalam hal ini jika perkara yang hendak dimiliki itu adalah keperluan asasi (dharuriat) seperti makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian dan pelajaran, maka Islam membenarkan berhutang sebagaimana dalam sebuah hadis bermaksud: "Daripada Abu Hurairah berkata seseorang: Ya Rasulullah, pekerjaan apakah yang paling baik? Baginda bersabda Memasukkan kepada saudara kamu kegembiraan atau melunaskan hutangnya atau memberi roti (makanan) kepadanya."
Jika perkara yang ingin dimiliki itu bukan perkara asasi atau penting dalam kehidupan seseorang itu, maka tidak perlulah dia berhutang. Ini kerana hanya akan menambahkan bebanan, lebih-lebih lagi jika membabitkan institusi kewangan dan perbankan yang mengamalkan sistem riba.
Kesan amalan berhutang.
Penyakit berhutang ini jika diamalkan akan menjadi satu budaya dalam kehidupan manusia yang boleh mendatangkan kesan negatif kepada pemiutang seperti muflis. Ini disebabkan bebanan hutang yang tinggi serta gagal melunaskan hutangnya.
2 Jiwa orang yang berhutang tidak akan tenteram dan aman, hidupnya dalam resah gelisah kerana dihantui bebanan dan tuntutan hutang yang tinggi.
3 Seseorang yang terbeban dengan hutang akan memungkinkan dia melakukan pelbagai perkara yang dilarang oleh syarak seperti mencuri dan menjual maruah diri semata-mata untuk melunaskan hutangnya.
4 Orang yang berhutang akan terikat hidupnya di dunia dan akan tergantung amalan dan rohnya selepas meninggal dunia hingga segala hutang piutangnya dilunaskan ketika hidup.
Sabda Rasulullah: "Jiwa orang mukmin akan tergantung dengan hutangnya (iaitu tidak dihukum selamat atau celaka) hingga dia menjelaskan hutangnya."
Rasulullah pernah berwasiat kepada sahabat Baginda agar mengurangkan hutang seperti sabdanya : "Kurangkanlah dirimu daripada melakukan dosa, maka akan mudahlah bagimu ketika hendak mati. Kurangkanlah daripada berhutang nescaya kamu akan hidup bebas."
Amalan berhutang bukan saja membabitkan kehidupan dunia semata-mata, bahkan berpanjangan hingga ke hari akhirat.
Sabda Rasulullah: "Sesungguhnya sebesar-besar dosa di sisi Allah ketika seseorang hamba itu berjumpa dengan Allah nanti selepas dosa besar lain yang ditegah ialah seseorang lelaki yang berjumpa dengan Allah pada hari hisab dengan mempunyai hutang yang belum dijelaskan lagi."
Sabda Rasulullah bermaksud: "Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutangnya." (Hadis riwayat Bukhari, Tarmizi, An- Nasai' dan Ibn. Majah)
Rasulullah sendiri tidak akan menyembahyangkan jenazah orang yang masih mempunyai hutang. Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Saidina Ali bahawa apabila didatangkan kepada Rasulullah satu jenazah, Baginda tidak akan bertanya mengenai amalan si mati, tetapi bertanya apakah si mati mempunyai hutang atau tidak. Jika si mati mempunyai hutang, Rasulullah menyuruh sahabatnya menyembahyangkan jenazah itu atau Baginda meminta sesiapa yang sanggup menaggung hutang si mati. Jika tiada, maka hutang itu akan diserah atau ditanggung oleh pihak Baitulmal. –

18 Jun 2010

JAGALAH LIDAH ANDA


Sedikit renungan pendek untuk kita hayati bersama-sama. ...
Pepatah mengatakan, lembut lidah tidak bertulang, tetapi kata-katanya menusuk seperti belati. Berhati-hati, jenayah menggunakan lidah tidak akan kita nampak dosanya di hadapan mata, tetapi dosa-dosa ini akan diperlihatkan di kampung akhirat nanti.
Lidah untuk berkata-kata tetapi adakah kita menggunakan lidah untuk meluahkan perkataan yang elok-elok? Sebabnya yang sering berlaku, kita menggunakan lidah untuk berbual kosong, mengumpat, bercakap perkara sia-sia sehingga kadang kala melampaui batas.
Jenayah lidah juga menjadi racun yang mematikan kasih sayang dalam pergaulan sesama insan, menyuburkan benih dendam dan kebencian dalam persaudaraan. Apabila manusia terdedah kepada bahaya fitnah, saling mencela, berprasangka buruk atau menghina secara terang-terangan maka akan rosaklah kehidupan yang asalnya aman dan damai.
Disebabkan itu, Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya yang bermaksud, “Sesungguhnya seorang hamba Allah mengucapkan satu perkataan yang dibenci Allah ia tidak ambil hirau, menyebabkan dia terjerumus ke dalam api neraka (jahanam).” (Hadis riwayat Bukhari)
Banyak sekali peringatan mengenai bahaya lidah ini.
Dalam bahasa kita, istilah yang kita gunakan adalah mulut jahat. Lidah memang tidak bertulang, mudah berkata tetapi kadang kala percakapan itu menolak seseorang ke jurang neraka.
Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda lagi yang bermaksud, “Tidak ada sesuatu yang menjerumuskan manusia ke dalam api neraka kecuali dosa-dosa percakapan kotor dan jahat.” (Hadis riwayat ahli sunnah dan Ahmad)
Berbahasa kasar dan mulut jahat bukan tabiat orang beriman. Hal ini seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Seseorang mukmin bukan seorang yang suka mencaci atau suka melaknat orang lain dan dia juga tidak bersifat jahat di samping ia tidak bersikap buruk.” (Hadis riwayat at-Tirmizi)
Rasulullah SAW bersabda bermaksudnya,“Tidak lurus (istiqomah) iman seseorang hamba itu sehingga hatinya lurus dan hatinya tidak akan lurus sehingga lurus lidahnya.” (riwayat Ahmad)
Maksud istiqomah ialah tetap teguh di atas jalan yang betul lurus yang membawa keredhaan Allah SWT. Dasar istiqomah adalah istiqomah hati iaitu lurusnya hati di atas tauhid. Apabila hati telah beristiqomah kepada Allah dalam erti kata takut, cinta, tawakkal dan mengagungkan Allah maka seluruh anggota tubuh akan taat kepadanya.
Ini ialah kerana hati adalah raja kepada badan manakala anggota badan adalah rakyatnya.
Anggota terpenting selepas hati yang mesti diberi perhatian serius agar beristiqomah ialah lidah kerana lidah adalah terjemahan hati yang menggambarkan pemikiran seseorang.
Oleh itu, peliharalah lidah sebaik-baiknya. Strategi paling berkesan bagi menghindari maksiat lidah sudah diajar Baginda SAW melalui penyaksian Ummul Mukminin Aisyah yang berkata, “Sesungguhnya Rasulullah sentiasa berzikir kepada Allah setiap saat.” (Hadis riwayat Muslim)
Alangkah eloknya apabila kita boleh memujuk diri dan membulatkan tekad untuk sentiasa berzikir seperti mana amalan Baginda SAW. Walaupun tujuan sebenarnya ialah untuk menghadirkan Allah pada setiap perbuatan, supaya lurus segala amal zahir dan batin, amalan zikrullah juga diyakini boleh menyibukkan lidah dan hati sehingga keduanya tidak berpeluang melakukan maksiat.
Zikrullah menjamin hati yang sempurna, hati yang hidup dan jasad sentiasa bergerak untuk kebaikan.
Renung-renungkan!
Hadis Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah SAW., sabdanya: "Siapa yang tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian dicukupkannya seratus dengan membaca: "La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir. Maka diampuni Allah segala kesalahannya, walaupun sebanyak buih di lautan." (Hadis riwayat Muslim)

Masjid Solatiah GR

http://picasion.com